Lihatlah,
Gelas itu terbawa rindu
Kukenalkan ia pada bulan dan gurauku
Indahnya ia sampai tak ku tahu
Untuk apa ia jatuh hati dan tersipu malu
Lihatlah,
Matanya tak sanggup terpejam
Ketika melihat dirinya sedang tenggelam
Ragu sepi masalalu buatnya tertikam
Berdua dengannya bak air dan api saling mengancam
Lihatlah,
Hatinya gusar penuh banyak kalimat Tekateki
pelantun rindu bunga dimata saling menyayat
Penuh ragu rasa rindu turunkan air mata dan ku ingat:
Wahai penghafal al-Qur’an, bacalah ayat-ayatnya, maka
semua akan diam mendengarkan dengan menundukkan kepala
Wahai penghafal al-Qur’an, kalian bukanlah seorang
hafidz sejati, sampai kalian menerapkan apa yang telah kalian hafal
Lihatlah,
Gelas itu terbawa rindu
Kukenalkan ia pada bulan dan gurauku
Indahnya ia sampai tak ku tahu
Untuk apa ia jatuh hati dan tersipu malu
Lihatlah,
Matanya tak sanggup terpejam
Ketika melihat dirinya sedang tenggelam
Ragu sepi masalalu buatnya tertikam
Berdua dengannya bak air dan api saling mengancam
Lihatlah,
Hatinya gusar penuh banyak kalimat Tekateki
pelantun rindu bunga dimata saling menyayat
Penuh ragu rasa rindu turunkan air mata dan ku ingat:
Wahai penghafal al-Qur’an, bacalah ayat-ayatnya, maka
semua akan diam mendengarkan dengan menundukkan kepala
Wahai penghafal al-Qur’an, kalian bukanlah seorang
hafidz sejati, sampai kalian menerapkan apa yang telah kalian hafal
No comments:
Post a Comment